Mangga VS Daun Sirsak

Cerita ini hanya sekedar hiburan. Apabila ada kesamaan nama, waktu dan tempat??? Mungkin memang disengaja hehee… Peacee V
Langsung aja ya, Happy Reading !!!

#Mangga Vs Daun Sirsak#


Berisik, berisik dan berisik. Kalau matahari sudah muncul alias pagi hari, pasti pada berisik. Ya, begitulah wanita. Apalagi jika delapan orang wanita digabung didalam satu rumah, bisa jadi tetangganya pada setres. Seperti yang terjadi pagi ini, delapan orang taruni (siswi) smk yaitu Sari, Nur, Ati, Lianti, Sara, Indah, Ani, dan Eski yang sibuk dengan urusan masing-masing bersiap sebelum berangkat menuju tempat mereka praktek.
Suasana didalam rumah…
“kaos kaki ku mana ya?” teriak Indah yang kebingungan.
“wooy, cepetan mandinya” geram Eski berdiri didepan pintu kamar mandi.
“Ih, itu kan jilbab ku?” tanya Sara menunjuk jilbab yang dipakai oleh Nur.
“Santai aja keles. Aku kan pinjam bentar aja” jawab Nur santai.
Ati, Lianti dan Ani sedang asik menonton gosip di tv dengan suara yang tidak kalah kerasnya.
“Iih, ini kan yang tadi malam baru tunangan” seru Ani
“Astaga, ditipu dia sama tunangannya” Lianti ikut menanggapi
“Kasiannya perempuannya, boy” kali ini Ati juga berkomentar
“e-eh, Sudah sana siap-siap, gossip aja dari tadi” kata Sari yang sedari tadi sudah siap dengan semua peralatan prakteknya. Setengah jam kemudian, rumah itu terdengar hening dan tenang. Tentu saja karena delapan taruni itu sudah pergi menuju tempat praktek mereka.

(Next)

Sepulang dari tempat praktek…
“Eh, liat ada mangga” Ani menunjuk sebuah mangga muda dipohonnya.
“Tapi masih muda tuh, pasti masam” komentar Lianti
“Enak itu boy, ayo kita mencok” ajak Ati dengan semangat
(yang lain ikut-ikut aja)
Piring, pisau, garam dan cabai sudah disiapkan Ati. Ani mengambil posisi sebagai pengupas dan pemotong mangga. Tiba-tiba Nur datang menyambar manga.
“Eh, jangan banyak-banyak kita belum makan siang”
“iya Nur, lagi pula kamu punya magh kan? Jangan makan yang masam-masam”
“Santai aja keles. Dikit aja kok”
“Hem… enaknya booy”
“aduhh, pedasnya. Cabainya kebanyakan nih”
Sambil menonton tv, mereka berkumpul di ruang tengah menikmati mangga muda yang ditemani dengan garam dan cabai hingga benar-benar habis.

(Next)

Sore hari, Nur mulai mengelus-elus perutnya. Dia berjalan lunglai menuju kamar. Tidak lama kemudian Lianti keluar dari kamar.
“Badannya Nur panas” sahutnya pada semua temannya diruang tengah.
“Masa sih? Dimana dia?” tanya Sara
“Tuh dikamar” tunjuk Lianti
“Kita liat yuk” ajak Ati yang diikuti oleh temannya yang lain
Didalam kamar, wajah Nur sudah terlihat pucat. Tubuhnya hangat tapi dia merasa kedinginan. Dia terbaring lemas dan matanya setengah terpejam. Teman-temannya mulai panik takut terjadi apa-apa dengan Nur. Belum lagi guru pendamping mereka Bu Asri masih ada urusan penting diluar rumah. Untuk pertolongan pertama, Ati mengambil alih menyelimuti Nur dan memberi instruksi kepada teman-temannya yang lain. Ada yang disuruh mengambil air, piring, kain untuk kompres, dan lain-lain. Sedang khusus untuk Ani, tugasnya adalah mengambil “daun sirsak”.
Tidak lama kemudian…
“Assalamualaikum” Indah dan Eski baru saja tiba dirumah setelah berkeliling kompleks pelatihan.
“Kok sepi? Yang lain pada kemana?” tanya Eski
“Wa’alaikumsalam” terdengar suara Sari dari dalam kamar
“Oh, pada ngumpul bergosip dikamar kayaknya” kata Indah
Pintu dibuka…
Eski dan Indah melihat teman-tamannya berkumpul dikamar
Kemudiaan mata mereka berdua terhenti pada Nur…
Nur yang terbaring lemas dan…
“Hihihii…” Eski dan Indah menahan tawa melihat Nur
Bukan karena mereka tau bahwa Nur sakit. Tapi karena tumpukan daun diwajah Nur. Entah daun apa itu. Belum lagi jika dipadukan dengan wajah tembem dan lemas milik Nur. Mereka semakin tidak tahan ingin tertawa.
“Eh, kalian berdua ini malah senyam-senyum” kata Ani
“Ehm, maap. Tadi ketemu orang aneh dijalan” Indah mencari alasan dan duduk didekat kaki Nur.
“Si Nur kenapa? Tanya Eski memasang tampang sok serius.
“Sakit. Kayaknya gara-gara makan mangga tadi siang tuh” jelas Lianti
“Ini apa?” tanya Indah mengangkat sehelai daun dari wajah Nur.
“Hihihii…” lagi-lagi mereka berdua menahan tawa.
“Itu daun sirsak” kata Ati serius
“Oohhh…”
“Buat masker ya?” (Hihihii)
“Itu obat kalau… bla bla bla”
Ati menjelaskan cara kerja obat tradisional buatannya. Tapi Eski dan Indah tidak begitu mengerti. Tidak tahan melihat Nur, Eski dan Indah memilih keluar ruangan sebelum mereka berdua dikeroyok oleh seluruh temannya yang ada dikamar.

(Next)

Beberapa jam kemudian…
Hari sudah gelap, Bu Asri, Ani, dan Nur baru saja tiba dari rumah sakit. Kali ini wajah Nur sudah terlihat tidak pucat dan tentunya tanpa daun sirsak (Hihihii). Mereka semua dikumpulkan diruang tengah untuk mendapat pengarahan dan sedikit ceramah dari Bu Asri.
“Memangnya tadi kalian makan apa?” tanya Bu Asri membuka pembicaraan
“Makan mangga bu” jawab Sara singkat
“Nur juga kalian kasih? Kalian enggak tau kalau Nur punya magh?” tanya Bu Asri lagi
“Tau bu, tadi sudah di ingatin tapi egk mau dengar dia, bu” jawab Ani
“Sedikit aja kok bu” kata Nur pelan membela diri.
“Sedikit booy? Kalau bisa piringnya dimakan mungkin kamu makan juga” protes Ati membuat semua tertawa.
“Sudah-sudah. Lagian kalian ini mangga masih muda dimakan. Jadinya? Penyakit kan? Liat itu si Nur…”
Tiba-tiba Eski berbisik pada Indah
“Ibu enggak liat sih tadi mukanya penuh daun, hihihii”
“Bu, ada yang ketawa-ketiwi”
“enggak bu, maap” cepat-cepat Esti dan Indah menunduk
Setelah bermenit-menit kemudian…
“Jadi, ingat pesan ibu. Jangan makan mangga mentah lagi. Semuanya tanpa terkecuali. Karena ibu disini yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa. Mengerti?”
“Iiyaaa buuu….” Jawab mereka bersamaan
“yah, enggak makan buah lagi deh kita” canda Sara
“Nur sih, pakai acara sakit segala”
“Nanti hari minggu ibu belikan buah”
“Asiikk, buah apa bu?” tanya Indah semangat
“Apel. Kita kan di Malang, kotanya apel” kata Bu Asri kembali ramah
“Oke booy, mantap”
“Ya sudah, semua masuk kamar. Tidur, besok pagi harus praktek lagi. Jangan lupa beritahu atasan kalian Nur ijin sakit” perintah Bu Asri
“Siiaapp buuuu”
Mereka akhirnya bubar dan sebelum mereka masuk kekamar, Eski pun berkicau…
“Nur!!! nanti kalau makan apel kamu sakit lagi, aku kasih rumput jepang”


J  J  J

Komentar

Wd mengatakan…
Terimakasih telah berkunjung
Jangan lupa post kan komentar ya :)
Unknown mengatakan…
Hmzzzz ini crita wktu di Malng yh....? bgs bgt Wul :)
Unknown mengatakan…
sya suka,,,, bgs bgt,,, :)
Wd mengatakan…
terima kasih yunita ^_^
tunggu postingan selanjutnya ya ..
Unknown mengatakan…
keren :)
Lanjutkan
Sanggam_kalasahan mengatakan…
Aaaeeeyyyy . . . adegan serunya pas si nur mengekspresikan sakitnya egk da . . haha :D sy suka adegan itu :D apalagi ekspresi si ani :D :v :v

Postingan populer dari blog ini

Tiga

One Tree, There Fairy

Satu