Postingan

Tiga

Tiit… Tiittt… Berkali-kali klakson mobil itu berbunyi. Namun, pria itu tak kunjung bergerak. Eun Sang dengan wajah kesal berjalan cepat menuju kursi panjang tempat orang-orang beristirahat. Jam tangan G-shock- nya telah menunjukkan pukul sebelas empat lima. Tidak banyak orang yang berlalu-lalang di luar bandara itu. “Jangan macam-macam denganku, anak muda” Eun Sang menarik jaket yang menutupi wajah si pria. Namun, pria itu masih terlihat tenang dalam tidurnya. Tiittt… Tiitt… Klakson mobil kembali di bunyikan. Tak jauh dari mereka, sebuah taksi parkir di halaman depan bandara. Tidak salah lagi, taksi itu pasti milik pria tak sopan ini. Ia kembali melemparkan jaket ke wajahnya dan bergegas menyeret kopernya ke taksi. “Grandpa Hotel” sahut Eun Sang pada supir taksi. Segera sang supir membuka bagasi dan memasukkan kopernya. Baru saja Eun Sang membuka pintu mobil, seorang pria tak dikenal menerobos masuk kedalam taksi dengan ranselnya. “Maaf, nyonya. Tapi taksi ini mi...

Dua

Udara hangat seketika menyerang tubuh Eun Sang dan membuat wajahnya berubah warna menjadi putih kemerahan. Segera ia menanggalkan jaket tebal yang ia kenakan saat masih berada di Seoul. Tepat pada pukul sebelas malam waktu setempat ia tiba di Bandar Udara Kalimarau. Perjalanan yang melelahkan dan membutuhkan transit pesawat dua kali itu membuat tubuhnya payah. Dengan sisa tenaga yang ada, Eun Sang menyeret koper dan tas jinjing biru tua nya menuruni tangga berjalan. Pendingin ruang bandara itu sebenarnya sudah cukup untuk mendinginkan tubuhnya. Namun, Perbedaan suhu yang sangat jauh antara Korea Selatan dengan Kalimantan pasti membuatnya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Tidak sulit menemukan pintu keluar di Bandara. Ia cukup mengikuti petunjuk arah Exit yang berada disetiap sudut ruang. Walaupun Eun Sang sama sekali tidak mengetahui bahasa Indonesia, setidaknya ia menguasai bahasa inggris dengan cukup baik. Pintu keluar otomatis itu terbuka saat Eun Sang berjalan mendekat...

Satu

Hanya satu pintu lagi. Satu pintu pemeriksaan lagi sebelum ia diperbolehkan untuk masuk kedalam pesawat yang akan membawanya ketujuan. Namun sebuah panggilan darurat menghentikan langkahnya tepat didepan pintu pemeriksaan terakhir. Sebuah panggilan yang memintanya untuk tidak melanjutkan perjalanannya. Terdengar suara tak asing diseberang telpon. Nada suaranya menunjukkan kekhawatiran yang tak terbendung. Bermacam alasan diungkapkan demi menghentikan langkahnya. Dua petugas bandara memandangi wanita itu. Berdiri tepat didepan pintu pemeriksaan menggenggam telpon selulernya. Terdiam mendengarkan dengan tenang seseorang diseberang sana. Tiga puluh detik bukan waktu yang sebentar bagi petugas bandara. Wanita itu diminta menyingkir agar orang lain bisa masuk lebih dulu. Dengan sopan ia meninggalkan tempatnya dan duduk disalah satu kursi panjang tak jauh dari pintu pemeriksaan itu. “Aku tidak akan lama disana” sahutnya dengan tenang meletakkan tas jinjing berwarna biru tu...