Tiga
Tiit… Tiittt…
Berkali-kali klakson
mobil itu berbunyi. Namun, pria itu tak kunjung bergerak. Eun Sang dengan wajah
kesal berjalan cepat menuju kursi panjang tempat orang-orang beristirahat. Jam tangan
G-shock-nya telah menunjukkan pukul
sebelas empat lima. Tidak banyak orang yang berlalu-lalang di luar bandara itu.
“Jangan macam-macam
denganku, anak muda” Eun Sang menarik jaket yang menutupi wajah si pria. Namun,
pria itu masih terlihat tenang dalam tidurnya.
Tiittt… Tiitt…
Klakson mobil kembali
di bunyikan. Tak jauh dari mereka, sebuah taksi parkir di halaman depan
bandara.
Tidak
salah lagi, taksi itu pasti milik pria tak sopan ini.
Ia kembali melemparkan
jaket ke wajahnya dan bergegas menyeret kopernya ke taksi.
“Grandpa Hotel” sahut
Eun Sang pada supir taksi. Segera sang supir membuka bagasi dan memasukkan
kopernya.
Baru saja Eun Sang
membuka pintu mobil, seorang pria tak dikenal menerobos masuk kedalam taksi
dengan ranselnya.
“Maaf, nyonya. Tapi
taksi ini milikku”
Tak mau kalah, Eun Sang
segera masuk ke dalam mobil.
“Hei, apa kau tidak
mengerti? Taksi ini milikku. Aku yang memesannya” pria berkemeja biru meletakkan
ransel di antara mereka dan membuat tempat duduk mereka terasa sempit.
“Taksi ini milikku. Aku
lah yang lebih dulu melihatnya”
Pintu depan mobil terbuka.
Supir taksi terkejut melihat penumpangnya yang telah berubah menjadi dua.
“Pak, tolong antarkan
saya ke Palm Hotel, ya. Sekarang, pak” sahut pria itu.
“No, Grandpa Hotel, please” Eun Sang melotot pada supir taksi.
Tiba-tiba pria kemeja
itu tertawa lepas.
“Grandpa Hotel? Kau
pikir hotel itu milik kakekmu? Hahaha”
“Apa ada yang salah?”
“Grand Prama Hotel.
Bukan Grandpa Hotel, you know? Hahaha”
“Mengapa bah kalian
ini? Kalau mau berdebat, keluar dari mobil saya” supir taksi mulai angkat
bicara. “Mau kemana jua kalian ini? Taksi ini cuma mengantar kesatu tujuan”
lanjutnya.
Eun Sang dan pria itu
terdiam memandang si supir yang masih berdiri disamping pintu mobil yang
terbuka. Eun Sang yang tidak mengerti bahasa supir taksi melirik pria
berkemeja.
“Taksi ini hanya akan
mengantar penumpang ke satu tujuan” jelasnya.
“Aku mohon, aku harus
segera beristirahat. Aku tidak terbiasa dengan suhu udara disini. Biarlah dia
mengantarku dulu ke hotel” Eun Sang memasang tampang lesu pada pria itu.
“Kau tau? Aku juga
butuh istirahat. Taksi ini harus mengantarku lebih dulu”
“Beri tau supir taksi
ini. Aku akan membayarnya dua kali lipat jika dia mau mengantarkan ku lebih
dulu dan setelah itu mengantarmu”
“Apa urusanku? Mengapa
bukan kau saja yang bicara padanya?”
“Dia tidak akan
mengerti bahasaku”
“Kalau begitu
keluarlah. Taksi ini milikku. Aku yang memesannya”
“Dasar pria keras
kepala” gerutunya pelan.
"Kau bilang apa?”
“Ya Allah, Saya tidak
mengerti kalian ini bahas apa. Cepat bilang mau diantar kemana? Saya juga harus
segera pulang” supir taksi mengeluhkan kedua penumpangnya yang tak kunjung
berhenti berdebat.
“Tujuan hotel kita
berbeda, pak. Kalau bapak bisa mengantar kami berdua, kami akan bayar dua kali
lipat dari tarif normalnya”
“Ok, bisa kalau gitu.
Jadi kemana saya harus mengantar kalian?”
“Antar saya ke Palm
Hotel, lalu bawa perempuan korea ini ke Grand Prama Hotel. Bapak bisa meminta
biaya tambahannya setelah mengantarnya” jelas pria itu.
"Ok. Bilang pada wanita itu, dia harus membayar dua kali lipat dengan rupiah. Hahaha"
"Ok. Bilang pada wanita itu, dia harus membayar dua kali lipat dengan rupiah. Hahaha"
Taksi bertuliskan Batiwakkal itu pun akhirnya bergerak
meninggalkan bandara. Eun Sang memutuskan untuk tidak berbicara lagi. Ia sudah
kehabisan banyak tenaga malam ini. Ia hanya ingin segera beristirahat di hotel.
Komentar