Satu
Hanya satu pintu lagi.
Satu pintu pemeriksaan lagi sebelum ia diperbolehkan untuk masuk kedalam
pesawat yang akan membawanya ketujuan. Namun sebuah panggilan darurat
menghentikan langkahnya tepat didepan pintu pemeriksaan terakhir. Sebuah
panggilan yang memintanya untuk tidak melanjutkan perjalanannya.
Terdengar suara tak
asing diseberang telpon. Nada suaranya menunjukkan kekhawatiran yang tak
terbendung. Bermacam alasan diungkapkan demi menghentikan langkahnya.
Dua petugas bandara
memandangi wanita itu. Berdiri tepat didepan pintu pemeriksaan menggenggam
telpon selulernya. Terdiam mendengarkan dengan tenang seseorang diseberang sana.
Tiga puluh detik bukan
waktu yang sebentar bagi petugas bandara. Wanita itu diminta menyingkir agar
orang lain bisa masuk lebih dulu. Dengan sopan ia meninggalkan tempatnya dan
duduk disalah satu kursi panjang tak jauh dari pintu pemeriksaan itu.
“Aku tidak akan lama
disana” sahutnya dengan tenang meletakkan tas jinjing berwarna biru tua
disampingnya.
“Kau tidak perlu
khawatir. Kita bisa saling menyapa via email. Aku janji” sahutnya meyakinkan
lawan bicaranya.
“Ya, aku sudah membawa
semua barang yang kau berikan. Sekarang aku harus masuk kedalam pesawat. Aku
akan menghubungimu sesampainya disana”
“Sarangheo” senyum manis tersimpul diwajahnya sebelum ia memutuskan
sambungan telepon. Masih ada dua penumpang yang akan melewati pintu pemeriksaan
terakhir. Sigap ia beranjak untuk mengambil posisi antrian paling belakang.
“Kau berhasil
membujuknya?” sapa salah satu petugas saat gilirannya memasuki pintu pemeriksaan.
Seakan terlihat jelas, tujuan ia menerima panggilan tadi.
“Aku bisa menangani
masalahku”
Pesawat Asia Air Lines G212 mengudara pada
ketinggian tiga puluh enam ribu kaki diatas permukaan laut. Hamparan kapas
putih terbentang sejauh mata memandang. Semburat cahaya jingga hangat menyentuh
lekukan awan yang menggumpal. Sesekali gumpalan itu merenggang, kesempatan emas
baginya untuk mengintip pulau-pulau menakjubkan yang berada tepat dibawahnya.
Sekilas ia dapat melihat burung-burung terbang dibawah sana. Wanita muda itu
tersenyum. Memikirkan kemampuan otak manusia yang dapat mengubah sekelompok
burung terbang dibawah kaki mereka. Menciptakan mesin raksasa yang mampu mengarungi
samudra putih dengan gulungan awan yang terlihat seperti liukan ombak laut yang
tenang. Mengkerdilkan pulau dan kota-kota besar. Melesat cepat mengalahkan
kecepatan Peregrine Falcon si burung
tercepat dari utara Amerika. Sungguh pemandangan mustahil yang tidak bisa didapatkan
tanpa akal manusia. Alam pun harus rela tertinggal oleh pesatnya pertumbuhan
manusia dan teknologi.
Tak ingin melewatkan
lukisan alam seindah itu, segera ia merogoh kantong jaketnya mengeluarkan benda
kotak silver yang selalu ia bawa. Ia mengabadikan suasana senja dari atas
ketinggian tiga puluh enam ribu kaki dengan kamera digital kesayangannya.
“Excuse me!” seorang pramugari tiba-tiba saja menegur wanita itu dan
sontak membuat kamera digital terlepas genggamannya.
“No camera, Please” tegas pramugari yang dibalas dengan permohonan
maaf dari sang wanita. Ia lupa bahwa segala bentuk barang elektronik dan gadged
tidak boleh diaktifkan demi keamaanan penerbangan. Pramugari cantik itu
tersenyum dan berbalik sampai hilang dibalik tirai.
Wanita itu menghembuskan nafas berat tanda
kecewa. Ia menyandarkan tubuhnya tanpa sedikitpun memalingkan wajahnya dari
jendela kaca. Gumpalan awan semakin menipis. Langit jingga pun mulai meredup.
Tak banyak yang bisa dipandang dibawah sana. Hanya beberapa titik cahaya yang
mulai bermunculan.
Berapa
lama lagi aku akan sampai disana? Gumamnya didalam hati.
“ATTENTION, PLEASE”.
Suara berat seorang
pria dari pengeras suara meminta para penumpang untuk menutup jendela kacanya.
Tanpa berfikir panjang, wanita itu langsung menurunkan penutup jendela. Lampu
kabin pesawat pun menyala. Beberapa penumpang melepaskan seatbelt dan bergantian menggunakan toilet dibagian belakang kabin.
Mungkin karena udara didalam kabin terasa semakin dingin. Ini adalah kali
pertama ia harus bermalam diatas udara.
Seorang pria dengan
kemeja biru tua yang duduk dua baris didepannya juga terlihat melepaskan sabuk
pengamannya. Pria itu berdiri dan berjalan menuju belakang kabin. Tanpa sengaja
pandangan mereka bertemu. Karena terbiasa bersikap sopan, wanita itu
melayangkan senyum manis dengan sedikit menunduk. Namun pria itu justru hanya
menatapnya datar dan berlalu tak perduli.
Apa
seperti itu karakter meraka? Ia pun menghela napas.
Eun Sang. Sudah
berkali-kali mengunjungi berbagai negara saat berkerja sebagai wartawan disalah
satu stasiun televisi. Namun ia tidak pernah merasa segugup ini. Negara
tujuannya kali ini bukanlah negara yang ada dalam daftar pekerjaannya. Ia
bahkan sama sekali tidak memiliki rencana berkunjung kesana. Perjalanan tak
direncanakan seperti ini membuatnya sedikit khawatir. Ia bahkan tidak memiliki
kenalan disana. Di negara tujuan yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. Lalu
mengapa ia harus berkunjung kesana? Ada apa disana? Apa yang akan Eun Sang
lakukan disana? Apa sebenarnya yang ia cari di Indonesia?
Komentar
Pantengin ah