Dua


Udara hangat seketika menyerang tubuh Eun Sang dan membuat wajahnya berubah warna menjadi putih kemerahan. Segera ia menanggalkan jaket tebal yang ia kenakan saat masih berada di Seoul. Tepat pada pukul sebelas malam waktu setempat ia tiba di Bandar Udara Kalimarau. Perjalanan yang melelahkan dan membutuhkan transit pesawat dua kali itu membuat tubuhnya payah. Dengan sisa tenaga yang ada, Eun Sang menyeret koper dan tas jinjing biru tua nya menuruni tangga berjalan. Pendingin ruang bandara itu sebenarnya sudah cukup untuk mendinginkan tubuhnya. Namun, Perbedaan suhu yang sangat jauh antara Korea Selatan dengan Kalimantan pasti membuatnya membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Tidak sulit menemukan pintu keluar di Bandara. Ia cukup mengikuti petunjuk arah Exit yang berada disetiap sudut ruang. Walaupun Eun Sang sama sekali tidak mengetahui bahasa Indonesia, setidaknya ia menguasai bahasa inggris dengan cukup baik.
Pintu keluar otomatis itu terbuka saat Eun Sang berjalan mendekatinya. Ia tidak pernah menyangka suhu malam di luar Bandara justru lebih hangat. Bahkan mendekati panas.
Bagaimana suhu udara saat siang hari?
Tak ingin berlama-lama dengan udara yang tidak biasa itu, Eun Sang segera mencari loket taksi bandara. Tak jauh dari tempat ia berdiri, sebuah meja setengah bundar dengan seorang wanita berseragam biru muda dibaliknya terlihat tengah berdebat dengan seorang pria berkemeja biru tua.
“Apa tidak ada mobil lain? Saya harus segera ke Hotel” pria itu terlihat kecewa
“Maaf pak, kami baru saja memberangkatkan mobil terakhir untuk malam ini. Jika anda mau menunggu, kami akan coba menggubungi supir yang dapat mengantarkan anda” wanita berseragam biru muda menjelaskan dengan sopan.
Eun Sang tidak mengerti pembicaraan mereka. Namun ia yakin meja setengah bundar itu adalah loket taksi bandara.
“Excuse me. I need a taxi to take me to the Grandpa Hotel” sapa Eun Sang pada wantita berseragam.
Mereka masih saling berdebat dan tidak menyadari kehadiran Eun Sang. Selain suaranya yang kecil, Eun Sang juga memiliki postur tubuh yang mungil. Terlihat dari meja bundar setinggi bahunya, justru hanya sebatas dada si pria berkemeja biru. Merasa terabaikan Eun Sang membesarkan volume suaranya.
“EXCUSE MEEEEEE”
Pria berkemeja biru sontak mengalihkan pandangannya tepat ke sampingnya. Pandangan meraka pun bertemu.
“Mengapa ada anak kecil di Bandara jam segini?” sahut pria itu datar yang membuat wanita berseragam biru tertawa kecil lalu menutup mulutnya.
Merasa di tertawakan, Eun sang bertanya pada pada pria itu dengan bahasa yang ia mengerti.
What did you say? Why is she laughing?
Oh, sorry. So you don’t understand Indonesian?”
“Iya, aku tidak mengerti. Dan aku mencurigai kau sedang menghinaku”
“Oh, wait. Kau menuduhku? Aku tidak mengucapkan apapun yang dapat menghinamu”
“Lalu mengapa dia tertawa saat kau berkata dalam bahasamu?” Eun Sang menunjuk wanita berseragam biru muda yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka. Ia tidak mengerti pembicaraan kedua pengunjung bandara itu.
“Dia tertawa? Lalu mengapa kau justru menuduhku?”
“Karena aku… aku…”
“Karena kau seharusnya bertanya padanya. Bukan padaku”
Eun Sang melirik wanita berseragam yang masih terdiam tidak mengerti. Ia menghela napas karena sudah membuang waktunya berdebat kecil dengan pria itu.
“Aku ingin memesan taksi untuk mengantarku ke Grandpa Hotel” sahut Eun Sang yang telah berubah menajdi lebih tenang.
Bukannya menjawab keinginan Eun Sang, wanita itu justru melirik ke arah si pria tadi. Dari matanya terlihat ia mengharap pria itu menerjemahkan bahasa Eun Sang. Paham dengan maksud lirikan si wanita berseragam, pria itu pun menerjemahkan bahasanya.
“Wanita kecil ini bertanya arah toilet” pria itu menjawab singkat. “Segera hubungi supir yang kau katakan tadi, aku akan menunggu disana. Cepatlah, aku tidak mau berlama-lama disini” lanjutnya.
Pria itu pun berbalik, menggendong tas ranselnya menuju kursi panjang yang tak jauh dari meja setengah bulat. Wanita loket mengangguk dan berterima kasih. Ia pun menunjukkan arah kepada Eun Sang. Untuk berjalan lurus mengikuti koridor dan berbelok kearah kanan.
Thank You” Eun Sang tersenyum dan kembali menyeret koper dan tas birunya.
Melihat Eun Sang yang semakin jauh dari nya, pria itu tersenyum tipis. Ia lalu menutupi wajahnya dengan jaket dan bersandar dikursi panjang. Ia ingin beristirahat sebentar sebelum jemputannya tiba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiga

One Tree, There Fairy

Satu