Celengan Bambu
Yunus
tengah asik memasukkan berbagai macam barang kedalam tasnya. Sang Ayah yang
sedang memeriksa ban sepeda ontelnya tersenyum memperhatikan tingkah lucu anak
semata wayangnya itu. Setelah mengikat tali sepatu dan merapikan bajunya, Yunus
menaiki sepeda dengan bantuan ayahnya. Ia duduk dibagian belakang, sedang
ayahnya yang bertugas mengendarai sepeda.
“Kau sudah siap, nak?” tanya ayahnya
dengan lembut. Yunus mengangguk mantap dan sang Ayah mulai mengayuh sepedanya.
Berjarak sekitar satu kilo meter jauhnya melewati jalan berbatu yang gersang.
Dikanan dan kiri jalan terdapat padang ilalang yang sangat luas. Dibawah terik
sinar matahari, Ayah Yunus tetap bersemangat mengayuh sepedanya tanpa henti. Setelah
melewati tanah yang gersang, kini saatnya mereka melewati sebuah pasar. Aroma
masakan dan jajanan tradisional membuat perut Yunus berbunyi. Tidak lama
kemudian mereka sampai pada sebuah sekolah kumuh yang sudah tidak layak pakai.
Dulunya sekolah itu adalah sebuah kandang kuda milik warga sekitar. Karena,
sudah tidak ada kuda lagi disana, sebagian warga inisiatif untuk membuatnya
menjadi sekolah dengan bahan-bahan ala kadarnya. Yunus tersenyum lebar saat
melihat sekolah itu. begitupun dengan sang ayah. Merekapun berhenti disalah
satu pohon depan sekolah itu.
“Ayah, kapan aku akan sekolah?”
tanya Yunus bersemangat.
“Bersabarlah nak, umurmu belum cukup
untuk masuk sekolah” jawab ayahnya
“Kapan umurku cukup untuk sekolah,
ayah?”
“Sebentar lagi nak. Bersabarlah”
“Ayah, berapa umurku sekarang?”
“Sepuluh tahun”
“Sepuluh? Rara juga berumur sepuluh
tahun. Lalu, mengapa Rara bisa sekolah, ayah? Sedangkan aku tidak” Yunus
mengerutkan keningnya
“Ayah akan menjawab pertanyaanmu
nanti. Sekarang, kita harus melanjutkan perjalanan? Kita sudah hampir sampai di
tempat tujuan” Yunus hanya mengangguk pelan. Sedang ayah kembali mengayuh
sepedanya. Yunus adalah anak yang penurut. Semenjak ibunya meninggal, Yunus
hanya tinggal berdua bersama ayahnya. Ia tidak pernah membantah perkataan
ayahnya dan ia tidak mau membuat ayahnya marah kepadanya. Hanya saja, saat ini
Yunus sangat ingin dapat bersekolah. Tidak harus sekolah yang bagus dan mahal.
Sekolah bekas kandang kuda itu adalah sekolah impiannya. Hampir setiap pagi,
saat mereka melewati sekolah itu, Yunus selalu bertanya kapan ia akan sekolah
dan ayahnya selalu mengatakan bahwa umur Yunus belum cukup untuk bersekolah.
Padahal, teman bermain Yunus dulu, kini sudah memakai seragam sekolah.
Tiba-tiba sepeda sang ayah berhenti.
Rupanya mereka sudah sampai tujuan. Sebuah dermaga kecil yang dipenuhi oleh
para nelayan dan pedagang ikan. Ayah Yunus memegang erat tangan anaknya saat
berjalan ditengah kerumunan. Yunus mengeluarkan beberapa kantong plastik dari
tasnya yang kemudian ia berikan pada ayahnya sebagian.
“Apa kau ingin berlomba, nak?”
“Berlomba?”
“Ya, jika kau dapat menghabiskan
kantong plastik lebih cepat dari ayah, ayah akan membelikanmu kue kering
kesukaanmu”
“Baiklah, ayah pasti akan kalah”
Yunus tersenyum lebar memamerkan gigi jarangnya. Ia berlari mendekati para
pembeli ikan untuk ia tawarkan kantong plastik miliknya. Sang ayah tersenyum
kecil melihat anaknya yang sangat bersemangat dalam bekerja. Ayah Yunus selalu
tahu cara untuk membuat anaknya melupakan sekolah impiannya. Bukan karena sang
ayah tidak ingin Yunus bersekolah. Melainkan karena ayah Yunus yang belum
memiliki kesanggupan untuk menyekolahkannya. Tidak ingin lama-lama bersedih
meratapi nasib, Ayah yunus juga menawarkan kantong plastiknya pada setiap orang
yang ia temui disana.
***
Beberapa bulan kemudian, Yunus sudah
siap untuk pergi bekerja bersama ayahnya. Namun, sang ayah masih belum terlihat
menyiapkan sepedanya. Ia sedang duduk dikursi teras dengan pandangan kosong. Yunus
pun mendekati ayahnya yang sedang melamun itu.
“Ayah, ayo kita berangkat” ajak
Yunus menarik lengan ayahnya
“Tidak, nak. Hari ini kita tidak
bekerja. Kita tidak punya kantong plastik lagi”
“Aku masih punya, Ayah” kata Yunus
memperlihatkan beberapa kantong plastiknya.
“Itu tidak cukup, nak. Kalaupun itu
semua laku terjual, hanya cukup untuk makan kita nanti siang” ayahnya tersenyum
kecil. “Maafkan ayah. Ayah tidak terbiasa untuk mengatur uang seperti ibumu” ia
mengelus kapala Yunus dengan lembut. Yunus membalasnya dengan sebuah senyuman.
Setelah meletakkan tasnya didalam kamar, Yunus kembali ke teras rumah dengan membawa
sepotong batang bambu. Ia memeluk erat bambu itu. Sang ayah heran melihat bambu
yang dibawa oleh yunus.
“Ayah. maafkan aku yang tidak pernah
memberi tahu ayah” katanya pelan
“Apa yang ingin kau katakan, nak?”
Sang ayah tetap bersikap tenang
“Sebenarnya, setiap kali ayah
memberiku uang untuk membeli kue kering, aku tidak pernah membelinnya. Uang itu
aku masukkan kedalam bambu ini. Maafkan aku yang sudah berbohong kepada ayah”
“Dari mana kau dapatkan bambu itu,
nak?”
“Dari Rara, ayah. Ia menyuruhku
untuk memasukkan semua uangku kedalam bambu ini. Termasuk uang yang ayah
berikan untukku. Kata Rara, jika bambu ini sudah penuh, maka aku akan bisa
bersekolah. Rara juga bilang, kalau ingin sekolah, aku tidak boleh membeli kue
kering” Ayah Yunus sangat senang dengan apa yang dilakukan oleh anaknya itu.
Kesedihan yang sedari tadi meliputinya kini sirna karena potongan bambu yang
dibawa oleh anaknya. Kini, Ia bisa membeli kantong plastik untuk kembali dijual
dan merekapun tidak akan merasa lapar sampai beberapa hari kedepan.
“Tunggu disini. Ayah akan pergi
membeli kantong plastik dan kue kering untukmu” baru saja Yunus ingin
berbicara, sang ayah sudah berada disepeda membawa celengan bambu miliknya.
Yunus merasa senang melihat ayahnya yang kembali ceria. Namun, ia juga sedih
melihat batang bambu yang dibawa oleh ayahnya. Uang didalam bambu akan
digunakan ayahnya. Usahanya selama berbulan-bulan untuk membuat bambu itu
penuh, kini sia-sia. Bambu itu akan kembali kosong seperti semula. Yunus
tertunduk dan menangis. Ia tidak tahu apa lagi yang bisa ia lakukan. Sepertinya
ia memang ditakdirkan untuk tidak memakai seragam sekolah.
Ditepat lain, Ayah Yunus telah
sampai disebuah toko kecil tempat ia biasa membeli kantong plastik. Seperti
biasa ia membeli dua pak kantong berukuran sedang dan besar. Kong Aming yang
merupakan pemilik toko sekaligus Ayah dari Rara memberikan kantong plastik yang
dimaksud.
“Hei, Sufur. Apa kau tidak bosan
bekerja menjual kantong-kantong ini. Mengapa kau tidak kembali menjadi nelayan
saja? Aku punya banyak kapal. kau bisa memakainya satu”
“Aku
bisa saja kembali menjadi nelayan, Kong Aming. Tapi aku tidak bisa meninggalkan
Yunus sendiri dirumah selama aku bekerja. Aku juga sangat menyesal pernah
membawa Yunus dan ibunya pergi berkapal bersamaku. Aku hanya tidak ingin
kejadian itu terulang kembali. Aku berhasil menyelamatkan Yunus, tapi tidak
dengan ibunya”
“Haiyaa… masa lalu jangan di
ingat-ingat. Takdir kita sudah ditentukan Tuhan. Kau jangan terlalu lama
bersama kesedihanmu. Kalau begitu cepat bayar dan pulang temui anakmu Yunus.
Dia sudah menunggu” Ayah Yunus tersenyum dan meletakkan celengan bambu diatas
meja.
“Haiyaa.. saya suruh kamu bayar
pakai uang bukan pakai bambu”
“Maaf Kong Aming. Aku tidak punya
alat untuk membuka celengan bambu ini. jika boleh aku ingin meminjamnya dari
Kong Aming”
“Yah, baiklah. Pakai palu ini saja”
Ayah Yunus mengambil palu itu dan Kong Aming memperhatikan ayah Yunus yang akan
memukul celengan dengan palu miliknya.
“Hei, Sufur. Dari mana kau dapatkan
celengan itu”
“Bukan aku kong Aming. Yunus bilang,
Rara yang memberikannya pada Yunus”
“Haiyaa… pantas saja aku mengenal
celengan itu. Kalau bukan karena benda itu, mungkin saja Rara belum sekolah
seperti sekarang” Ayah Yunus mengerutkan keningnya.
“Setahun
yang lalu Rara memintaku untuk dibuatkan sebuah celengan. Aku membuatkannya
dari bambu. Aku tidak tahu apa yang ingin Rara lakukan dengan celengan itu. Dua
bulan kemudian, Rara datang kerumah dengan membawa seragam sekolah yang ia beli
dipasar. Saat itu aku baru sadar, Rara sudah waktunya sekolah. Aku terlalu
sibuk dengan pekerjaanku dan tidak pernah mendengarkan keinginan anakku. Bahkan
aku lupa anakku sudah tumbuh besar” Kong Aming tertawa terbahak-bahak mengingat
kebodohannya. Ayah Yunus terdiam mendengar cerita singkat Kong Aming.
“Apa itu berarti, ini celengan yang
digunakan Rara?”
“Oh, tentu tidak. Celengan Rara
sudah hancur saat ia membeli baju sekolah. Beberapa bulan yang lalu, Rara
memintaku untuk membuatkannya satu celengan lagi. Aku juga tidak tahu Rara
bermaksud memberikannya pada anakmu” Ayah Yunus terdiam menatap celengan ditangan
kirinya dan sebuah palu ditangan kanannya. Ia merasa sedih dan bersalah telah
membohongi anaknya selama ini. Bukan umur Yunus yang menjadi masalah. Tetapi,
keegoisannya yang memaksa Yunus untuk terus bekerja bersamanya. Setelah lama
terdiam, ayah Yunus bangkit dan mengembalikan palu milik Kong Aming.
“Apa aku boleh meminjam sedikit uang
darimu, Kong Aming? Aku akan mencicilnya tiap bulan. Sebagai jaminan, aku akan
bekerja sebagai nelayan seperti anak buahmu yang lain” Kong Aming pun tersenyum
mengerti akan keputusan ayah Yunus.
Yunus masih duduk dikursi teras saat
ayahnya datang membawa sebuah kantong plastik. Namun, tidak seperti yang
biasanya. Kantong itu terlihat terisi penuh oleh barang-barang. Yunus yakin
kantong itu bukan berisi plastik. Ayah Yunus datang menghampirinya dengan
senyum yang mengembang. Baru saja Yunus akan bertanya isi dari kantong itu,
sang Ayah langsung memeluknya dengan erat. Mereka terdiam sesaat.
“Maafkan ayah, nak. Ayah terlalu
egois dan hanya memikirkan diri ayah sendiri” Yunus masih tidak mengerti.
Dihadapan Yunus, sang Ayah membuka bungkusan plastik itu. raut wajah Yunus
seketika berubah. Ia melihat baju seragam sekolah disana. Tas, pensil, sepatu
dan berbagai macam alat yang sering digunakan oleh anak sekolah pada umumnya.
“Ayah, ini semua untukku? Apa ini
milikku?” tanyanya dengan senyum bahagia
“Ya, Yunus. Itu semua milikmu”
“Apa umurku sudah cukup untuk
sekolah?” Yunus bertanya dengan wajah polosnya, sang Ayah hanya bisa tertawa
dan mengangguk kecil kepada anaknya itu. Ia memeluk anaknya dengan erat,
begitupun dengan Yunus. Mereka terlihat sangat bahagia. Akhirnya impian Yunus
untuk bersekolah dapat terwujud. Celengan bambu yang diberikan oleh Rara adalah
benda ajaib. Yunus berjanji suatu saat nanti, ia akan membuat banyak celengan
bambu untuk diberikan kepada anak-anak yang tidak dapat bersekolah seperti
dirinya. Atau untuk anak-anak yang belum cukup umur namun sudah ingin
bersekolah. Celengan bambu itu akan membantu setiap anak mewujudkan cita-cita
mereka. Begitulah pikirnya.

Komentar