Journal In Seoul


“Sungguh? Kim Jun Wo? Artis korea yang terkenal itu?” Julia terdengar bersemangat diujung sana.
            “Iya. Awalnya aku juga tidak mengira kalau yang akan aku wawancarai itu adalah artis sombong ini”
            “Walaupun dia sombong, dia tampan, bukan. Jadi, sekarang kalian dimana?” tanya Julia penasaran
            “Dilokasi Syuting. Aku hanya bisa berbincang dengannya saat jam istirahat”
            “Jangan lupa untuk membawakan tanda tangannya untukku” ancamnya
            “Baiklah, akan aku usahakan. Itupun kalau ia mau memberikannya. Sepertinya ini sudah waktunya istirahat. Aku akan menghubungimu lagi nanti, bye” Kiki memutuskan hubungan teleponnya dan memasukkannya ke dalam tas kecil diatas meja. Disaat yang sama seorang pria bertubuh tinggi dan berkulit putih datang menghampirinya.
            “Kau masih mengungguku? Dasar wanita bodoh senang sekali melakukan hal yang membosankan” katanya dalam bahasa inggris dengan nada yang tidak menyenangkan.
            “Bisa kita mulai sekarang?” walaupun Kiki merasa kesal mendengar ucapannya, Kiki berusaha untuk tetap professional.
            “Baiklah. Tapi jangan lama-lama. Aku ini sangat sibuk” pria itu segera menarik kursi lipat dan duduk didekat Kiki. Kiki pun memulai aksinya sebagai wartawan. Kiki sudah sangat terlatih dalam hal menguak informasi. Ia  juga terlihat santai dalam melakukannya. Membuat narasumber yang ia wawancarai tidak segan-segan untuk memberikan informasinya. Itu sebabnya, Kiki yang mandapatkan kesempatan emas untuk pergi ke Seoul meliput seorang artis drama korea yang sedang naik daun bernama Kim Jun Wo itu. Namun tidak dengan pria yang satu ini. Memang tidak mudah membuatnya berbicara. Untuk itu, Kiki mengarahkan semua kemampuannya sebagai seorang wartawan. Satu jam berlalu. Kiki merasa ia sudah mendapatkan informasi yang cukup untuk saat ini. Ia akan melanjutkannya nanti setelah selesai makan siang. Tidak disangka, para kru mengajak Kiki ikut serta bersama mereka. tanpa berpikir panjang, Kiki pun tidak segan-segan menyetujui ajakan mereka untuk makan siang bersama.
***
            Kim Jun Wo tidak henti-hentinya memperhatikan wanita diujung sana. Wanita itu sedang asik bercanda dengan seorang penata rias artis dan seorang cameramen. Entah apa yang membuat Jun Wo senang memperhatikan wanita itu. Mungkin senyumnya, sikap ramahnya, tawanya, atau expresi bodohnya saat Jun Wo membuat wajahnya memerah. Atau mungkin juga karena wanita itu memiliki wajah yang berbada dari wanita korea lainnya. Tentu saja, karena ia tidak berasal dari Korea. Wanita itu seorang jurnalis dari Indonesia. Ia datang ke Seoul dua minggu yang lalu khusus untuk meliput dirinya. Jun Wo merasa beruntung akan hal itu. Ia wanita yang baik dan cukup hebat dalam mengambil hati seseorang. Buktinya, dalam seminggu ia sudah sangat akrab dengan para kru yang sudah lama bekerja bersama Jun Wo. Semua sangat senang jika bertemu dengannya. Jun Wo pun setuju akan hal itu.
            “Hei, apa yang kau lakukan disini? memandanginya?” Park Shin, manager Jun Wo, tiba-tiba datang menghampirinya.
            “Tidak ada hyung1. Aku hanya sedang istirahat” Jun Wo mengalihkan pandangannya.
            “Jun Wo, Jun Wo” Park Shin menepuk pundaknya dan ikut duduk disana. “Aku sudah lama bekerja bersamamu. Kau sudah seperti adikku. Kau tidak akan bisa membohongiku”
            “Maksud hyung apa? Aku tidak mengerti” Jun Wo memasang tampang bodoh
            “Hahaha… sudahlah Jun Wo. Aku tahu kau menyukainya. Sebelumnya, aku tidak pernah melihatmu seperti ini. Hyung sarankan untuk segera berbicara dengannya. Sebelum dia pulang ke Negaranya” Park Shin beranjak dari tempat duduknya dan pergi begitu saja. Jun Wo memikirkan kata terakhir dari manager yang sudah ia anggap seperti kakaknya itu.
Bicaralah dengannya, sebelum ia kembali ke Negaranya
***
            Kiki tengah sibuk merogoh tasnya mencari benda kecil yang terus berteriak. Saat berhasil meraihnya, tulisan “Jun Wo” muncul dilayar ponselnya. Iapun segera menekan tombol berwarna hijau.
            “Ah, kau ini mengapa lama sekali mengangkat telfonnya?” Jun Wo terdengar kesal
            “Mianhae2. Ada apa kau menghubungiku? Tidak biasanya”
            “Aku hanya ingin bertemu denganmu sebentar” Jun Wo terdengar berbata-bata saat mengatakannya.
            “Bertemu denganku? Tapi, tidak ada yang ingin ku tanyakan lagi padamu. Kau sudah memberiku informasi yang aku butuhkan” kata Kiki meyakinkan.
            “Aku hanya ingin memastikan kau tidak menulis informasi yang salah tentangku” kata Jun Wo mencari alasan. Kiki terdiam sejenak memikirkan keputusan yang akan ia ambil. Akhirnya ia pun mengabulkan keinginan Jun Wo untuk bertemu. Mereka bertemu disebuah restaurant mewah di Seoul. Kiki menarik lengan Jun Wo dan membisikkannya sesuatu.
            “Mengapa kau tidak memberitahuku sebelumnya? Aku pikir kita hanya akan bertemu ditempat yang lebih santai? Apa kata mereka melihatku dengan pakaian seperti ini? Kau sengaja ingin mempermalukanku?” Jun Wo hanya tersenyum mendengar omelan dari Kiki. Ia menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Kiki duduk disana. Kiki masih merasa tidak nyaman.
            “Jun Wo, lebih baik kita pulang saja. Aku merasa mereka semua memperhatikanku”
            “Tentu saja mereka memperhatikanmu. Kau datang bersama seorang artis tampan dan terkenal seperti aku” Kiki memasang tampang manyun kepada Jun Wo yang dibalas tawa darinya. Beberapa orang pelayan tiba-tiba datang membawa berbagai jenis makanan dan minuman. Kiki terkejut karena sebelumnya ia dan Jun Wo sama sekali belum memesan apapun. Jun Wo langsung menikmati makanannya begitupun dengan Kiki. Beberapa menit kemudian, saat Jun Wo dan Kiki baru saja menyelesaikan santapannya, lampu restaurant tiba-tiba padam dan membuat ruang itu gelap gulita. Kiki panik karena ia memang tidak suka dengan kegelapan. Jun Wo yang berada disampingnya segera menggenggam tangannya untuk membuatnya lebih tenang. Kiki memang menjadi tenang. Tetapi justru jantungnya berdegub semakin kencang, wajahnya terasa panas. Beruntung saat itu lampu masih padam. Sehingga Jun Wo tidak akan melihat wajahnya yang memerah. Kiki berharap lampu akan segera menyala agar ia dapat melepaskan tangan Jun Wo darinya. Beberapa menit kemudian, yang terasa seperti berjam-jam lamanya, sebuah lampu sorot yang besar menyala mengarah kepada Kiki, dan beberapa detik setelah itu sebuah lampu sorot lagi menyala mengarah keatas panggung tempat para pemain musik. Lagi-lagi Kiki terkejut. Ia tidak menyadari bahwa Jun Wo telah melepaskan tangannya dan kini tengah berdiri diatas panggung. Sedang apa dia disana? Apa yang akan dia lakukan? apa dia bermaksud mempermalukanku lagi?
            “Saya… Kim Jun Wo… akan menyanyikan sebuah lagu untuknya” Jun Wo menunjuk kearahnya. Sontak seluruh orang yang ada direstaurant besar itu bertepuk tangan. Dengan Suara yang merdu Jun Wo mulai menyanyikan lagu berbahasa Korea. Walaupun Kiki tidak mengerti apa maksud dari lagu itu, Kiki merasa sangat senang. Sebelumnya, tidak ada pria yang mau bernyanyi untuknya. Apalagi didepan umum seperti ini. Kiki merasa bersalah sudah berfikir yang tidak-tidak kepada Jun Wo. Ternyata dia tidak seburuk yang aku kira.
***
            Seminggu setelah kejadian menyenangkan itu, Kiki dan Jun Wo lebih sering menghabiskan waktu bersama. Hubungan mereka juga semakin dekat. Yah, walaupun Jun Wo masih sering membuatnya kesal. Sampai-sampai terdapat berita di Korea yang mengatakan bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Jun Wo merasa senang dengan gossip itu dan Kiki memilih untuk mengabaikannya. Tidak terasa waktu Kiki untuk bertugas di Korea telah habis. Ia sangat senang karena ia akan segera kembali ke Negaranya. Tiket pesawat juga telah disiapkan oleh pihak perusahaan yang mengirim Kiki. Malam itu juga, Ia bertemu dengan Jun Wo untuk mengabarkan kabar gembira itu.
            “Hah… aku sangat senang akhirnya aku bisa pergi jauh darimu, Jun Wo” Ia tertawa namun Jun Wo hanya diam saja. “Kau pasti juga sangat senang bukan?” Kiki mendorong Jun Wo dengan bahuya dan lagi-lagi Jun wo hanya tersenyum pahit.
            “Apa aku boleh meminta sesuatu darimu?” tanyanya pelan. Kiki mengangguk mantap.
“Tetaplah disini… bersamaku… Aku membutuhkanmu”
“Ah, Jun Wo kau ini masih saja bercanda”
“Tidak, Kiki. Aku tahu ini sangat aneh bagimu. Aku juga tidak mengerti apa yang aku ucapkan. Tapi… aku hanya ingin kau tidak meninggalkanku”
“…..”
            “Aku juga tahu mungkin ini masih terlau cepat untuk diucapkan…” dengan perlahan Jun Wo mengangkat kepalanya dan menatap Kiki. Iapun menarik nafas panjang dan berkata
Saranghaeyo3
***
            Kiki memainkan selembar tiket pesawat ditangannya. Matanya terlihat sembab. Ia duduk disalah satu kursi panjang dipojok ruangan dekat jendela kaca. Walau masih terlalu pagi, Bandar Udara Internasional Icheon itu sudah terlihat ramai oleh pengunjung. Tiba-tiba seseorang berdiri tepat dihadapan Kiki.
            “Lagi-lagi kau menungguku? Dasar bodoh” pria itu tersenyum sinis
            “Kenapa kau lama sekali? Aku tidak ingin ketinggalan pesawat karenamu” tanpa memperdulikan omelan Kiki, Jun Wo mengeluarkan kotak berukuran kecil berwarna merah dari kantong celananya.
            “Ini ambillah. Aku ingin kau memakainya. Aku juga punya satu” Ia memperlihatkan jari manisnya. Kiki segera mengambil hadiahnya dan membaca tulisan yang ada dicincin itu.
            “Kim Jun Wo. Apa itu berarti kau memakai cincin bertuliskan namaku?” Ia berharap. Jun Wo menggelengkan kepalanya
            “Ah, kau curang sekali” Jun Wo tertawa melihat raut wajah Kiki yang kesal. Tidak lama kemudian terdengar suara seorang wanita dari speaker yang memberi informasi kepada para penumpang pesawat jurusan Indonesia untuk segera bersiap.
            “Pergilah” kata Jun Wo sambil mengacak rambut Kiki. “Jangan lupa kabari aku jika kau telah sampai disana” katanya melanjutkan. Kiki mengangguk. Segera ia mengenakan tas ranselnya dan berjalan pelan membelakangi Jun Wo. Baru beberapa langkah Kiki berjalan, ia pun berhenti dan berbalik kembali kearah Jun Wo.
            “Aku tahu. Kau kembali untuk memberikanku pelukan perpisahan, bukan?”
            “Jangan bermimpi. Aku hanya ingin kau menandatangani buku ini. Aku sudah berjanji pada sahabatku” dengan sedikit kecewa Jun Wo menuruti keinginannya.
            “Terima kasih, Jun Wo” Jun Wo mengangguk dan tersenyum “Tidak, maksudku Terima kasih telah menemaniku selama aku disini”
“Aku akan sangat merindukanmu” Kali ini Kiki benar-benar telah berbalik. Jun Wo memperhatikan langkahnya sampai ia hilang ditengah kerumunan. Memang terasa begitu menyakitkan. Ia berbalik dan mendapati Park Shin berdiri disana. Park Shin menganggukkan kepalanya. Jun Wo pun tersenyum melihatnya.

# The End #

1.      Hyung                          =          Panggilan kakak laki-laki (untuk adik laki-laki)
2.      Mianhae                       =          Maaf (non-formal)
Mianhamnida                =          Maaf (formal)
3.      Saranghaeyo                 =          Aku menyukaimu (non-formal)

Saranghamnida             =          Aku menyukaimu (formal)

Komentar

Anonim mengatakan…
hmm, lumayan juga :)
Wd mengatakan…
Terima kasih :)
saya masih pemula dalam menulis...
Mohon kritik dan sarannya :)

Postingan populer dari blog ini

Tiga

One Tree, There Fairy

Satu